Home » Berita » Sosialisasi Perlu Lebih Intensif
Sosialisasi Perlu Lebih Intensif
Kasi Perlindungan dan Pembinaan BP3TKI Medan, Rizal Saragih

Sosialisasi Perlu Lebih Intensif

Mendapat pekerjaan di luar negeri, bagi sebagian orang adalah kebanggaan dan dianggap bisa mengangkat derajat keluargaga di kampung halaman. Tak perduli ia bekerja jadi apa, yang penting bekerja di luar negeri pasti akan mendapatkan gaji besar. Anggapan ini perlahan kian bergeser seiring dengan banyaknya kasus yang menimpa TKI kita di luar negeri. Apalagi yang berangkat dengan jalur calo atau tak resmi, WNI yang bekerja tanpa dokumen resmi ditangkap dan dipulangkan dengan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) karena paspornya telah ditahan majikan atau calo.

Dengan penyebaran informasi lewat media massa dan media elektronik ke berbagai pelosok negeri diharapkan dapat memberikan edukasi tentang proses bekerja di luar negeri. Walaupun bekerja di luar negeri sudah begitu populer di masyarakat, namun tata cara menjadi TKI prosedural masih belum banyak diketahui publik secara benar. Meski pun ada sebagian yang telah memahaminya, namun informasi yang didapat masih sepotong-sepotong. Bahkan kadang menyesatkan karena mereka mendapatkannya dari ‘para calo’ tenaga kerja.

Baca Juga : Melancong Dulu Sengsara Kemudian

Perusahaan dan perseorangan yang memiliki jaringan dalam pengiriman TKI ke luar negeri juga tak pernah putus asa. Mereka memasang iklan di media massa lengkap dengan persyaratan dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Titin (35) salah seorang ibu rumah tangga mencoba menelepon nomor yang ada di dalam iklan kolom salah satu media terbitan Medan.

Ada dua nomor yang dihubungi, pertama 0823 6922 xxxx tidak direspon. Kemudian nomor 0813 7009 xxxx langsung diangkat seorang pria dan menanyakan apa keperluan penelepon. Dari perbincangan antara Titin dan pria yang menawarkan pekerjaan ke Penang Malaysia, ada beberapa persyaratan yang ditanyakan. Mulai dari status perkawinan, umur dan pengalaman kerja. Pria tersebut menawarkan pekerjaan sebagai penjaga anak dan penjaga orang tua (jompo).

Saat Titin menanyakan kemana harus mendaftar dan mendapatkan informasi tentang pekerjaan yang ditawarkan, pria tersebut langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan apakah Titin punya pin BB. Karena, menurutnya komunikasi selanjutnya akan dilakukan lewat pin BB dan menganjurkan Titin untuk mengirimkan foto seluruh badan lewat BB dan menanyakan apakah sudah punya paspor sendiri atau belum.

Kasi Perlindungan dan Pembinaan BP3TKI Medan, Rizal Saragih

Kasi Perlindungan dan Pembinaan BP3TKI Medan, Rizal Saragih

Iklan perusahaan yang ada di media massa menawarkan lowongan kerja resmi ke Malaysia biasanya akan melampirkan alamat lengkap perusahaan dan persyaratan yang harus dipenuhi. Menanggapi gencarnya oknum-oknum yang ingin mendapat keuntungan dari pemasangan iklan tersebut perlu diantisipasi dan ditindaklanjuti keberadaannya apakah benar-benar resmi atau tidak.

Kasi Perlindungan dan Pembinaan BP3TKI Medan, Rizal Saragih menyampaikan minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri memang masih cukup tinggi. Mereka memimpikannya sebagai alternatif konkrit untuk mencari penghasilan yang tinggi. Data keberangkatan dan kedatangan TKI melalui Bandara Kuala Namu Internasional Deli Serdang dan pelabuhan Teluk Nibung Tanjung Balai sepanjang Januari – Desember 2015, keberangkatan (10.592) dan kedatangan (2.828).

No Keberangkatan Jumlah Kedatangan Jumlah
1 Bandara Kuala Namu 10.073 Bandara Kuala Namu 889
2 Teluk Nibung Tj. Balai 519 Teluk Nibung Tj. Balai 1.979
Jumlah 10.592 Jumlah 2.828

Kemudian, data yang dirilis Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menyatakan saat ini ada sekitar 4 juta orang Indonesia yang bekerja di luar negeri. Mereka bekerja di berbagai lapangan pekerjaan, terutama di pabrik, hotel, perkebunan, kapal, hingga penata laksana rumah tangga. Mereka tersebar di 112 negara.

Dari jumlah TKI sebanyak itu, maka besaran dana remitansi dari TKI pada tahun 2013 sudah mencapai Rp 80 trilun per tahun. Angka ini  akan menjadi lebih besar bila dana TKI yang ditransfer ke Indonesia dibawa pulang secara langsung ikut pula dihitung.

Berdasarkan data yang diolah dari BNP2TKI diperoleh jumlah TKI tertinggi berdasarkan daerah asal (Januari sampai September 2015) adalah Jawa Barat 48.723, Jawa Tengah 44.550, NTT 39.872, Jawa Timur  37.110 dan Lampung 12.124.  Sementara untuk data jumlah penempatan TKI tertinggi  berdasarkan negara diperoleh Malaysia 74.251, Taiwan 57.869, Saudi Arabia 17.117, Singapore 15.057, Hongkong 11.995, Brunei Darussalam 7.418, Oman 6.597, United Arab Emirates 5.383, Korea Selatan 4.914 dan Bahrain 2.486.

Data Penempatan TKI ke luar negeri.

Data Penempatan TKI ke luar negeri.

Di beberapa negara, jumlah TKI formal dan non formal bervariasi di setiap negara tujuan. Untuk negara Korea Selatan, semua TKI yang dikirim sepanjang Januari sampai September 2015 semuanya di sektor formal. Untuk negara Taiwan, TKI informal (39.091) lebih besar dari formal (18.778).

Rizal Saragih menegaskan bahwa TKI yang dikirim dari Sumatera Utara ke Malaysia sudah didominasi sektor formal. Hal ini akibat dari dampak banyaknya pekerja penata laksana rumah tangga (PLRT) yang mengalami tindakan kekerasan dari majikannya. PPTKIS yang menerima tawaran PLRT pun terpaksa mengurangi pengiriman atau sama sekali tidak mau lagi menerima tawaran untuk sektor ini.

Menanggapi masih banyaknya WNI yang dipulangkan dari Malaysia akibat tertangkap polisi dan petugas imigrasi Malaysia, menurut Rizal ini menjadi salah satu dampak dari kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat tentang bagaimana memperoleh pekerjaan di luar negeri secara resmi. Itu sebabnya, sosialisasi terpadu tentang bagaimana menjadi TKI resmi ke luar negeri harus dilakukan lebih intensif.

DATA MASALAH TKI copySepanjang tahun 2015 saja, ada banyak WNI bermasalah dan TKI tak berdokumen yang sudah dipulangkan dari Malaysia. Data BP3TKI tentang Rekapitulasi Permasalahan Calon TKI dan TKI untuk Januari – Desember 2015 ada 140 kasus dengan 534 orang. Di penghujung tahun 2015, kata Rizal Saragih ada 23 tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Sumatera Utara yang dipulangkan dari Malaysia.

Pasca pemulangan 23 TKI dari Malaysia, PT Satria Parang Tritis (SPT) adalah PPTKIS yang memberangkatkan mereka bekerja di PT Naim Engineering. Untuk menyelesaikan permasalahan TKI ini, SPT dan TKI melakukan mediasi di kantor Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Medan.

“Tuntutan kami yang pertama meminta agar PT Satria Parang Tritis membayarkan gaji para TKI yang belum dilunasi oleh PT Naim Engineering di Malaysia. Kedua, kami meminta agar PT Satria Parang Tritis memberikan kompensasi yang layak. Mengingat selama di Malaysia, biaya perobatan pekerja dibayar sendiri,” demikian tuntutan TKI yang dibacakan Sekretaris Federaso Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Willy Agus Utomo selaku perwakilan TKI.

Willy juga meminta SPT agar mengembalikan dokumen seperti KTP, ijazah serta dokumen lainnya agar bisa menentukan langkah ke pekerjaan berikutnya.

Mediasi antara PT SPT dengan buruh migran yang pulang dari Malaysia di kantor BP3TKI Medan. Foto : James P. Pardede

Mediasi antara PT SPT dengan buruh migran yang pulang dari Malaysia di kantor BP3TKI Medan. Foto : James P. Pardede

Kepala Operasional PT SPT yang sengaja datang dari Jakarta, Rizal Haris mengaku akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu kepada PT Naim Engineering di Malaysia. Pihaknya ingin mengetahui secara detail apakah benar gaji para TKI belum dibayar.

“PT SPT sama sekali tidak pernah melakukan penipuan. Ketika pekerja mendaftar untuk berangkat ke Malaysia, di dalam brosur sudah dijelaskan berapa gaji yang akan didapat selama di Malaysia. Kita tidak pernah menjanjikan (TKI bekerja sebagai skill/tukang). Mungkin, PT Naim Engineering punya penilaian, ya mohon maaf bagi TKI yang dianggap belum layak ditempatkan di posisi skill,” katanya.

Seiring waktu berjalan, mediasi yang dilakukan BP3TKI terhadap permasalahan TKI dengan SPT akhirnya menemui jalan damai. Semua dokumen milik 23 TKI yang pulang dari Malaysia dipulangkan dan kompensasi dari SPT Rp 500.000 per orang.

Karena sudah sepakat berdamai, Rizal Saragih akhirnya meminta kedua belah pihak saling bersalaman. Rizal mengatakan, kejadian serupa tidak boleh terulang kembali di kemudian hari.

“Jadi, jangan ada tuntutan lain setelah perdamaian ini. Kedua belah pihak sepakat atas perjanjian pemberian kompensasi,” katanya.

***

Permasalahan yang dihadapi TKI di luar negeri sering terjadi karena apa yang disampaikan petugas lapangan (PL) terhadap calon TKI sebelum berangkat sering bertolak belakang dengan kenyataan. PL sudah lebih dahulu menarik keuntungan dari calon TKI dengan perjanjian tidak akan pernah mengungkapkan hal itu kepada perusahaan PPTKIS yang akan memberangkatkan mereka.

Menurut Marhaum Tamba yang pernah berkecimpung di perekrutan TKI ke Malaysia, banyak temuan-temuan di lapangan yang sampai ke perusahaan bahwa petugas PL sudah menjanjikan ini dan itu kepada calon TKI. Sementara menurut Rika dari STP, proses rekrutmen calon TKI yang akan diberangkatkan ke Malaysia tidak dipungut biaya kecuali untuk tahapan tertentu. Biaya-biaya itu nantinya akan dipotong dari penghasilan mereka setiap bulannya.

Baru-baru ini, kasus penipuan yang dilakukan seorang wanita berinisial K alias Nur (22) di Jalan Tangguk Bongkar X, Gang Iman, Kelurahan Tegal Sari Mandala, Kecamatan Medan Denaimembuat warga yang merasa ditipu mendatangi rumahnya.

Wanita K telah memperdaya mereka dengan mengaku-ngaku bisa mempekerjakan orang ke Malaysia. Namun setelah uang diberikan, K malah menghilangkan jejak. Nomor kontaknya pun tidak bisa dihubungi. Warga yang merasa ditipu, lalu mencari tau keberadaan wanita kelahiran Aceh tersebut dengan memasang poster dan gambarnya di setiap lokasi hingga akhirnya menemukan keberadaannya.

Di depan rumah K, juga terlihat belasan orang warga Diski yang menunggu guna menuntut ganti rugi. Karena tak kunjung dibayar, para korban kemudian pergi ke Mapolsek Medan Area guna melaporkan kasus penipuan tersebut.

“Kami menunggu di sini supaya dia tidak lari. Kalau saya sudah bayar Rp 800 ribu. Katanya mau dipekerjakan di pertambangan Malaysia,” tutur Kasnimar (33), warga yang tinggal di Jalan Bromo.

K alias Nur saat dikonfirmasi terkait tuduhan itu, mengakui perbuatannya dan mengatakan akan mengganti rugi uang warga yang telah dikutipnya dengan jumlah mencapai Rp 10 juta.

“Saya janji dua hari lagi akan saya bayar. Saya akan ganti dengan menggadaikan sawah saya di Ponton Labu, Aceh Utara. Kalau sekarang, saya tidak punya duit,” katanya.

Pihak kepolisian Sektor Medan Area mengaku sempat memboyong tersangka ke kantor polisi. Namun polisi tidak bisa menahan tersangka lantaran laporan korban tidak memiliki bukti surat menyurat penyerahan uang.

Pengalaman pribadi saat melakukan kunjungan ke Sabah Malaysia beberapa waktu lalu, banyak pekerja dan TKI yang bekerja di sana pada awalnya tidak memiliki dokumen resmi. Sampai mereka menikah dan punya anak, WNI yang dominan berasal dari NTT tersebut akhirnya memiliki dokumen resmi dari Konsulat Jenderal RI di Kota Kinabalu. Anak-anak mereka pun bisa bersekolah di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu.

Permasalahan TKI dari hulu sampai ke hilir memiliki mata rantai yang tak ada putusnya. Sejak dari perekrutan sampai ke penempatan, calon TKI sudah banyak yang tertipu. Persoalan-persoalan yang menimpa WNI harus diminimalisir, caranya adalah mari sama-sama menaruh kepedulian terhadap permasalahan ini. Sosialisasikan kepada semua kalangan, ketika ada PL yang menawarkan pekerjaan ke luar negeri, jangan langsung tergiur dengan gaji tinggi, teliti lebih lanjut siapa PPTKIS-nya dan berkoordinasi dengan dinas tenaga kerja atau BP3TKI. (James P. Pardede)

One comment

Leave a Reply