Home » Berita » Prospek Investasi 2017 : Sektor Properti Terus Bertumbuh
Prospek Investasi 2017 : Sektor Properti Terus Bertumbuh
Sektor Properti tetap bertumbuh

Prospek Investasi 2017 : Sektor Properti Terus Bertumbuh

Sektor Properti tetap bertumbuh

Sektor Properti tetap bertumbuh

PRIME NEWS-MEDAN. Pergerakan IHSG selama tahun 2016 menunjukan tren mengembirakan. Pada penutupan IHSG per 30 Desember 2015 lalu berada di level 4593. Bila kita mengacu pada penutupan IHSG per 8 Desember 2016 berada di level 5303. Untuk per 8 Desember 2016 pergerakan IHSG naik 710 poin atau 15,46 persen. Sampai akhir tahun 2016 diperkirakan IHSG masih naik.

Menurut Penasehat Investasi #1 di Indonesia Darmin, SE, MBA pergerakan IHSG selama tahun 2016 sangat mengembirakan. Ini menunjukan investasi di saham sangat menjanjikan dan memberikan keuntungan. Bandingkan dengan investasi di deposito tahun 2016 yang memberikan keuntungan 5 sampai 6 persen.

Tax Amnesty yang digulirkan pemerintah telah memberikan tambahan jumlah wajib pajak. Selama Tax Amnesti ada sekitar 3.900 triliun aset yang dilaporkan. Program ini memberi dampak positif terhadap sektor lainnya termasuk sektor properti.

Darmin SE MBA

Darmin SE MBA

Investasi Properti Tahun 2017

  • Akan mengalami pemulihan karena ditunjang dengan beberapa kebijakan kelonggaran dari pemerintah bagi masyarakat dalam membeli rumah dengan program KPR
  • Regulasi Loan to Value (LTV) dimana pelaksanaan kredit perumahan akan diberikan kemudahan Down Payment (DP) antara 5% sampai 15 %.
  • Untuk KPR semakin dipermudah, dimana DP pembelian rumah pertama 15%, rumah kedua 20% dan rumah ketiga 25% yang sebelumnya bisa mencapai 40% sampai 50% untuk rumah kedua dan ketiga.

Program Tax Amnesty telah memberikan dampak positif bagi sektor properti terutama dana repatriasi yang dialokasikan ke sektor properti. Ke depan, dengan adanya program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) maka warga negara asing sudah bisa membeli properti di Indonesia.

Sementara Wakil Ketua DPP Real Eatate Indonesia (REI) untuk Hubungan Luar Negeri Rusmin Lawin menyampaikan bahwa minat investor asing untuk berinvestasi di Indonesia lebih memilih sektor infrastruktur, industri dan bidang IT.

Rusmin Lawin

Rusmin Lawin

“Premanisme dan pungutan liar masih menjadi momok yang menakutkan bagi investor untuk menanamkan investasinya di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan,” kata Rusmin.

Risiko Global (kondisi saat ini)

Amerika Serikat :

– Partai Republik memimpin lagi setelah 8 tahun, dimana memiliki kebijakan yang berbeda dengan partai demokrat

– Partai Republik berpihak kepada pengusaha (Tax cut 35% menjadi 15%) dan peran pemerintah terhadap ekonomi rakyat tidak terlalu dominan (sedangkan Demokrat  anggaran untuk kesejahteraan rakyat lebih dominan sehingga pajak tinggi dan mungkin hutang menjadi lebih besar)

– Akan ada tax amnesty di US

– Amerika lebih memilih hubungan bilateral drpd multilateral

 

Tiongkok :

– Tiongkok merupakan partner dagang utama Indonesia

– Motor dari pertumbuhan ekonomi global

– Isu utama saat ini di Tiongkok adalah besarnya hutang baik swasta maupun BUMN

– Peristiwa terjadinya kollaps saham di Tiongkok beberapa tahun lalu

 

Dari dalam Negeri :

– Risiko perlambatan dari sektor swasta terlihat dari rendahnya pertumbuhan kredit

– Perlambatan pertumbuhan kredit kemungkinan masih berlanjut di 2017

– Pola penyerapan Anggaran yang tidak merata sehingga tidak optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi

– Pemerintah perlu maju kedepan karena melambatnya sektor swasta, dengan mendorong pertumbuhan ekonomi dan instrumennya

– Alokasi APBN harus lebih optimal (tidak harus melihat besarannya tetapi lebih kearah pemerataan)

– Kenaikan NPL dan pertumbuhan kredit yang rendah (baru kali ini di bawah 10%), imbas dari kekhawatiran pelaku ekonomi thd ekonomi Indonesia.

PREDIKSI 2017

Adanya optimisme kearah perbaikan ekonomi dibanding tahun 2016

Amerika Serikat :

– Pertumbuhan akan di level 2.0% lebih baik dari 2016 yg ada di kisaran 1.5%

– Pertumbuhan ini masih terbilang moderat tetapi menunjukkan optimisme serta juga terbantu sentiment naiknya presiden baru

Tiongkok :

– Pertumbuhan ekonomi tahun 2017 diperkirakan lebih rendah dari tahun 2016 yaitu dari 6.6% menjadi 6.3%

– Walaupun turun 0.3% tetapi tetap Tiongkok sebagai penggerak ekonomi terbesar kedua dunia (selama 20 tahun Tiongkok sebelumnya tumbuh di atas 10%)

– Dampak penurunan ekonomi Tiongkok ini berpengaruh secara global dan berimbas ke Indonesia

– Pemerintah Tiongkok akan menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 6%

EU dan Jepang :

– Pertumbuhan ekonomi EU dan Jepang sdh tidak bisa di harapkan, dimana kejayaan mereka sdh lewat di masa 80 dan 90 an dimana pertumbuhan ekonomi keduanya sdh stagnan lebih dari 10 tahun.

Emerging Economy :

– India paling stabil karena tdk tergantung komoditas

– Mayoritas tergantung pada komoditas

– Brazil dulunya sebagai the best emerging economy dan saat ini pertumbuhan ekonomi mereka minus dan defisit fiskal hingga 10% dari PDB serta memiliki hutang yg cukup besar

Indonesia :

– Prediksi Pertumbuhan Ekonomi tahun 2017 : 5.1-5.3% (Q1 5.07 Q2 5.07 Q3 5.27 Q4 5.27)

– Kenaikan Federal Funds Rate FFR di Desember 0.25% sdh di price in sebelumnya

– Risiko sudden reversal dapat terjadi di Indonesia karena porsi hutang pemerintah banyak di pegang oleh investor asing yaitu sekitar 39% (sebagai contoh : Jepang rakyatnya banyak memiliki surat hutang pemerintah dan porsi asing hanya 9% sehingga tidak terpengaruh dengan sudden reversal)

– PDB Indonesia karena efek proteksionis Trump bisa minus 0.41% dari baseline krn investasi dari Amerika dan negara lain menurun.

– Secara langsung memang pengaruhnya kecil, namun jika proteksionis Amerika thd Tiongkok dilakukan, efek berantainya akan mempengaruhi Indonesia karena export yg harusnya di produksi ke Amerika mau tidak mau Tiongkok akan mencari pasar baru dan kemungkinan Indonesia akan jadi sasaran tersebut.

– PDB Indonesia karena efek Tiongkok  bisa minus 0.71% dari baseline krn investasi dari Tiongkok dan negara lain menurun.

– FDI terbesar di Indonesia berasal dari Singapura Jepang Korea dan Inggris

– Efek Tiongkok lebih berpengaruh ketimbang Amerika (Trump). @jamesppardede

Leave a Reply