Home » Berita » Melancong Dulu Sengsara Kemudian
Melancong Dulu Sengsara Kemudian
Proses pendataan WNI dan TKI bermasalah yang dipulangkan KBRI Malaysia di Pos Pelayanan Kedatangan TKI Bandara Kuala Namu Internasional Deli Serdang. Foto : James P. Pardede

Melancong Dulu Sengsara Kemudian

Sebut saja namanya Ani (bukan nama sebenarnya), perempuan berusia 18 tahun itu berjalan sangat pelan ketika petugas Imigrasi mengarahkannya untuk segera memeriksa kondisi tubuhnya yang terlihat lemah. Petugas Karantina Kesehatan melakukan pemeriksaan dan menyampaikan bahwa Ani sedang dalam kondisi hamil 2 bulan lebih.

Oleh : James P. Pardede

Ani didampingi petugas dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) yang bertanggung jawab menerima kepulangan Ani dan 6 orang TKI lainnya dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia dengan penerbangan QZ 123 dan tiba di Bandara Kuala Namu, Rabu (2/12/2015) pukul 15.00 WIB.

Ani dan enam orang lainnya dipulangkan dari Malaysia karena tidak memiliki dokumen lengkap sebagai tenaga kerja Indonesia. Mereka pada awalnya datang ke Malaysia menggunakan paspor untuk melancong atau berwisata. Ada yang berangkat lewat pelabuhan Tanjung Balai, ada juga yang berangkat lewat Bandara Kuala Namu (dan eks Bandara Polonia).

Proses pendataan WNI dan TKI bermasalah yang dipulangkan KBRI Malaysia di Pos Pelayanan Kedatangan TKI Bandara Kuala Namu Internasional Deli Serdang. Foto : James P. Pardede

Proses pendataan WNI dan TKI bermasalah yang dipulangkan KBRI Malaysia di Pos Pelayanan Kedatangan TKI Bandara Kuala Namu Internasional Deli Serdang. Foto : James P. Pardede

WNI yang pada awalnya berangkat ke Malaysia sebagai pelancong, ternyata sudah punya kesepakatan awal sebelum berangkat dari Medan atau Tanjung Balai untuk bertemu seseorang di negara tujuan. Ani yang berangkat ke Malaysia melalui pelabuhan Tanjung Balai bekerja di salah satu kedai di Malaysia. Ia berangkat dengan paspor pelancong, setelah di Malaysia ia bertemu dengan agen dan menawarkannya bekerja di kedai. Ia tertangkap petugas di kedai tempat kerjanya karena sudah overstayers (melewati batas kunjungan selama 90 hari). Ani ditangkap dan diserahkan ke KBRI Malaysia.

(Baca : Sosialisasi Perlu Lebih Intensif)

Menurut pengakuan Ani, ia sudah berada di Malaysia dua tahun lebih dan bekerja di salah satu kedai di Malaysia. Ketika petugas BP3TKI mempertanyakan siapa ayah dari anak yang sedang dikandung Ani, ia pun terdiam sesaat.

“Saya tidak tahu,” jawabnya singkat.

Beberapa saat kemudian, petugas BP3TKI menyuruh Ani untuk membuat surat perjanjian atau surat pernyataan bahwa dalam waktu yang tidak ditentukan Ani dilarang untuk pergi lagi ke Malaysia karena sudah bermasalah dengan administrasi keimigrasian. Surat pernyataan akan dilampirkan dalam laporan ke BNP2TKI dan KBRI di Malaysia. Dengan adanya surat pernyataan ini, menurut salah seorang petugas BP3TKI di Bandara Kuala Namu Deli Serdang diharapkan dapat memberi efek jera kepada WNI lainnya.

Ada juga Lisa alias Sapriani yang tertangkap saat berada di meja judi. Lisa mengaku bahwa ia sudah sering pulang dan pergi ke Malaysia dengan paspor pelancong. Janda beranak 3 ini mengaku sudah berkali-kali ke Malaysia dan berdagang berbagai kebutuhan termasuk pakaian dan sepatu di sana. Tiga orang anaknya saat ini berada di Tanjung Balai. Dengan tertangkapnya Lisa dan bermasalah dalam hal administrasi keimigrasian, membuatnya bisa berkumpul kembali bersama anak-anaknya. Ia mengaku, suaminya adalah warga negara Malaysia dan sudah pernah datang ke rumahnya di Tanjung Balai.

Raut wajah Lisa terlihat sedih karena harus pulang ke kampung halamannya dengan status sebagai warga negara Indonesia bermasalah (WNI-B). Lisa dipulangkan lewat KBRI Kual Lumpur Malaysia menggunakan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP).

“Saya bingung mau kerja apa di kampung ? Selama ini sudah terbiasa di Malaysia dan bisa mengirim sebagian dari penghasilan saya untuk mencukupi kebutuhan anak-anak saya di Tanjung Balai. Setelah pulang nanti, saya belum tahu mau kerja apa?” tandasnya.

Pengakuan Vijaya yang bekerja sebagai pelayan restoran di Malaysia awalnya berangkat dengan paspor kunjungan wisata. Ia berangkat dari eks Bandara Polonia Medan dan setelah sampai di Malaysia ia bertemu dengan petugas lapangan atau agen tenaga kerja di Malaysia.

Saat ditanya lebih jauh tentang agen di Malaysia, Vijaya tersenyum dan mengatakan bahwa agen itu yang menghubungkannya dengan majikan di Malaysia. Setelah bekerja beberapa tahun di Malaysia, Vijaya tertangkap petugas Imigrasi Malaysia dan diberi sanksi masuk tahanan Imigrasi selama 2 bulan. Setelah menjalani proses di Imigrasi Malaysia, Vijaya diantar ke KBRI di Kuala Lumpur dan dipulangkan bersama 50 orang warga negara Indonesia overstayers (WNIO) dan tanaga kerja Indonesia undocumented (TKIU) dari Depo KLIA, Selangor. Ke-50 orang yang dipulangkan antara lain ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Pontianak, Batam dan Medan.

“Kalau ditangkap Imigration Malaysia kita lebih terhormat, tapi kalau ditangkap polisi seringkali perlakuan yang kita peroleh kasar dan uang kita diperas,” kata Vijaya. (Baca : Surat Izon Kseluarga Sering Disalahgunakan)

Terkait dengan banyaknya WNI yang berangkat ke luar negeri, khususnya ke Malaysia dengan paspor pelancong dan akhirnya bekerja di Malaysia. saat melakukan pemantauan beberapa kali di Bandara Kuala Namu Deli Serdang, jumlah keberangkatan dan kedatangan WNI di Terminal Internasional terlihat biasa-biasa saja.

Berdasarkan data yang diolah dari http://kualanamu-airport.co.id/ terhadap beberapa maskapai seperti Malaysia Airlines (2 kali keberangkatan ke Kuala Lumpur), Air Asia dengan Kode IATA: AK (4 kali penerbangan : 3 kali ke Kuala Lumpur dan 1 kali ke Penang), Air Asia dengan Kode IATA: QZ (4 kali penerbangan : 3 kali ke Penang dan 2 kali ke Kuala Lumpur), Firefly satu kali penerbangan ke Subang Malaysia, Lion Air dengan Kode IATA: JT ada 2 kali penerbangan ke Penang, Sriwijaya Air dengan Kode IATA: SJ berangkat 1 kali setiap harinya ke Penang. Total ada 15 kali penerbangan dari Kuala Namu ke Malaysia. Jika rata-rata setiap keberangkatan ada 50 orang Indonesia yang berangkat berarti ada sekitar 750 orang dari Medan berangkat ke Malaysia. Jika dihitung dalam sebulan rata-rata ada 22.500 orang yang berangkat ke Malaysia dengan berbagai tujuan.

Kebanyakan penumpang yang berangkat ke Malaysia dengan tujuan berwisata dan tujuan Penang unuk chek-up serta berobat. Saat bertanya kepada beberapa orang yang hendak berangkat ke Malaysia, jawabannya untuk melancong dan berobat. Melancong sendiri atau berdua ke Malaysia ada indikasi setelah sampai di sana bertemu dengan agen yang telah dihubungi sebelumnya dari Medan.

“Kita tidak pernah secara khusus mempertanyakan apa tujuan warga negara kita yang berangkat ke Malaysia atau ke negara lainnya. Itu hak azasi dari setiap individu yang ingin bepergian ke luar negeri,” demikian paparan pegawai Imigrasi Bandara Kuala Namu yang menolak namanya dicantumkan.

Data dari kantor Imigrasi di Jalan Gatot Subroto Medan, jumlah keberangkatan warga negara kita ke luar negeri sepanjang tahun 2015 mencapai 620.991 orang, kemudian untuk data kedatangan warga negara Indonesia dari luar negeri melalui Bandara Kuala Namu mencapai 591.481 orang.

Kasi Perlindungan dan Pembinaan BP3TKI Medan, Rizal Saragih menyampaikan banyaknya WNI yang bermasalah dan dipulangkan dari Malaysia karena tergiur penghasilan besar, desakan kebutuhan keluarga yang harus memenuhi kebutuhan anak dan isteri atau sebaliknya ingin membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga.

“Banyak dari WNI bermasalah memilih jalan pintas dengan menjadi pelancong dulu ke Malaysia. Setelah sampai di Malaysia, mereka mencari sendiri pekerjaan atau melalui agen yang telah membuat janji ketemu di Malaysia,” kata Rizal Saragih.

Melancong dulu sengsara kemudian menjadi pilihan WNI yang ingin bekerja dengan cara instan. Sementara kalau mereka mengikuti jalur yang resmi, lanjut Rizal banyak keuntungan yang mereka peroleh. Selain dijamin, calon TKI yang akan berangkat dengan jalur resmi bisa mengetahui secara pasti besar gaji yang akan mereka peroleh dan jumlah potongan. Kemudian, kalau mengalami kecelakaan kerja TKI akan mendapat asuransi.

“Masyarakat kita tidak mau belajar dengan kasus-kasus yang sudah menimpa banyak WNI di luar negeri karena bekerja melalui jalur tidak resmi. Perlakuan tidak manusiawi juga sudah banyak. Dengan jalur resmi saja, WNI yang bekerja di Malaysia dan negara lainnya masih menuai masalah, apa lagi yang tidak berdokumen resmi,” tandasnya.

2 comments

Leave a Reply